~SELAGI ITULAH NIKMAT TUHAN PERLU DI SYUKURI.... SELAGI ITULAH TUHAN BISA MENARIK SEGALANYA..... SEDARILAH HAKIKAT BAHAWA HIDUP INI HANYA SEKETIKA.... SELAGI DI BERI KESEMPATAN HARGAILAH IA SEBAIK-BAIKNYA... SELAGI KITA DI BERI KESENANGAN JANGANLAH LEKA DENGAN SURUHANNYA....~
Ya Allah,berikan cintaMu kepadaku...
Jadikanlah orang yang mencintaiMu mencintaiku..
Dan jadikanlah aku mencintai segala yang membawa kepada mencintaiMu~
Jadikanlah orang yang mencintaiMu mencintaiku..
Dan jadikanlah aku mencintai segala yang membawa kepada mencintaiMu~
Wednesday, March 17, 2010
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang
Matahari telah tergelincir. Seorang lelaki terlihat bersegera menuju masjid ketika adzan zuhur dikumandangkan dari sebuah masjid kampus. Lelaki itu berwudhu dan menunaikan solat nawafil. Lalu ia menjadi makmum di shaff terdepan.Solat wajib ia laksanakan dengan ruku’ dan sujud yang sempurna. Setelah solat tak lupa ia memuji nama Tuhannya dan memanjatkan doa untuk dirinya, ibu,ayahnya dan untuk ummat Muhammad saw yang dedang berjihad fii sabilillah.
Sebelum menuju kelas untuk kuliah,lelaki itu sempat bersalam-salaman dengan beberapa jamaah lain. Dengan
raut wajah yang bersahaja, ia sedekahkan senyuman terhadap semua orang yang ditemuinya. Ucapan salam
pun ditujukannya kepada para akhwat yang ditemuinya di depan masjid.
Lelaki yang bernama Ali itu kemudian segera memasuki ruang kelasnya. Ia duduk di bangkunya dan mengeluarkan
buku berjudul “Langitpun Tergoncang’. Buku berkisar tentang hari akhirat itu dibacanya dengan tekun. Sesekali ia
mengerutkan dahi dan dan sesekali ia tersenyum simpul.
Ali sangat suka membaca dan meyukai ilmu Allah yang berhubungan dengan hari akhir kerana dengan demikian ia
dapat membangkitkan rasa cinta akan kampung akhirat dan tidak terlalu cinta pada dunia. Prinsipnya adalah “Bekerja untuk dunia seakan hidup selamanya dan beribadah untuk akhirat seakan mati esok.”
Sejak setahun belakangan ini, Ali selalu berusaha mencintai akhirat. Sunnah Rasululah saw ia gigit kuat dengan gigi gerahamnya agar tak terjerumus kepada bid’ah. Ali selalu menyibukkan diri dengan segala Islam. Ia sangat membenci sekularisme kerana menurutnya, sekularisme itu tidak masuk akal. Bukankah ummat Islam mengetahui bahwa yang menciptakan adalah Allah swt, lalu mengapa mengganti hukum Tuhannya dengan hukum ciptaan dan pandangan manusia? Bukankah yang menciptakan lebih mengetahui keadaan fitrah ciptaannya?
Allah swt yang menciptakan, maka sudah barang tentu segala sesuatunya tak dapat dipisahkan dari hukum Allah.
Katakan yang halal itu halal dan yang haram itu haram, kerana pengetahuan yang demikian datangnya dari sisi
Allah.
Sementara Ali membaca bukunya dengan tekun, dua mahasiswi yang duduk tak jauh dari Ali bercakap-cakap
membicarakan Ali. Mereka menyukai sekali, Ali yang amat tampan dan juga pintar, namun belum mempunyai kekasih, padahal banyak mahasiwi cantik di kampus ini yang suka padanya. Tapi tampaknya Ali tidak ambil peduli.
Sikapnya itu membuat para wanita menjadi penasaran dan justru banyak yang ber-tabarruj di hadapannya. Kedua
wanita itu terus bercakap-cakap hingga lupa bahwa mereka telah sampai kepada tahap ghibah.
Ali memang tak mahu ambil tahu tentang urusan wanita kerana ia yakin jodoh di tangan Allah swt. Namun tampaknya iman Ali kali ini benar-benar diuji oleh Allah SWT.
Ali menutup bukunya ketika pensyarah telah masuk kelas. Tampaknya sang pensyarah tak sendirian, di belakangnya ada seorang mahasiswi yang kelihatan malu-malu memasuki ruang kelas dan segera duduk di sebelah Ali. Ali merasa belum pernah melihat gadis ini sebelumnya. Saat pensyarah mengabsen satu persatu, tahulah Ali bahwa gadis itu bernama Nisa.
Tanpa sengaja Ali memandang Nisa. Jantungnya berdegup keras. Bukan lantaran suka, tapi kerana Ali selalu
menundukkan pandangan pada semua wanita, sesuai perintah Allah SWT dalam Al Qur’an dan Rasulullah saw
dalam hadits. “Astaghfirullah…!”, Ali beristighfar.
Pandangan pertama adalah anugerah atau lampu hijau. Pandangan kedua adalah lampu kuning. Ketiga adalah lampu merah. Ali sangat khawatir bila dari mata turun ke hati kerana pandangan mata adalah panah-panah iblis.
***
Pada pertemuan kuliah selanjutnya, Nisa yang sering duduk di sebelah Ali, kian merasa aneh kerana Ali tak pernah
menatapnya kala berbicara. Ia lalu menanyakan hal itu kepada Utsman, teman dekat Ali. Mendengar penjelasan
Utsman, tumbuh rasa kagum Nisa pada Ali.
“Aku akan tundukkan pandangan seperti Ali”, tekad Nisa dalam hati.
Hari demi hari Nisa mendekati Ali. Ia banyak bertanya tentang ilmu agama kepada Ali.
Kerana menganggap Nisa adalah ladang da’wah yang potensial, Ali menanggapi dengan senang hati.
Hari berlalu… tanpa sengaja Ali memandang Nisa. Ada bisikan yang berkata, “Sudahlah pandang saja,lagipun Nisa itu tidak terlalu cantik.. Jadi mana mungkin kamu jatuh hati pada gadis seperti itu” Namun bisikan yang
lain muncul, “Tundukkan pandanganmu. Ingat Allah! Cantik atau tidak, dia tetaplah wanita.” Ali gundah. “Kurasa,
jika memandang Nisa, tak akan membangkitkan syahwat, jadi mana mungkin mata, pikiran dan hatiku ini
berzina.”
Sejak itu, Ali terus menjawab pertanyaan-pertanyaan Nisa tentang agama, tanpa ghadhul bashar kerana Ali
menganggap Nisa sudah seperti adik… ,hanya adik.
Ali dan Nisa kian dekat. Banyak hal yang mereka diskusikan. Masalah ummat maupun masalah agama. Bahkan terlalu dekat…
Hampir setiap hari, Ali dapat dengan bebas memandang Nisa. Hari demi hari, minggu demi minggu, tanpa disadarinya,ia hanya memandang satu wanita, NISA! Kala Nisa tak ada, terasa ada yang hilang. Tak ada teman diskusi agama…,tak ada teman berbicara dengan tawa yang renyah.., tak ada…wanita. Lub DUBB!!! Jantung Ali berdebar keras, bukan kerana takut melanggar perintah Allah, namun kerana ada yang berdesir di dalam hati…kerana ia… mencintai Nisa.
Bisikan-bisikan itu datang kembali… “Jangan biarkan perasaan ini tumbuh berkembang. Cegahlah semampumu!
Jangan sampai kamu terjerumus zina hati…! Cintamu bukan kerana Allah,tapi kerana syahwat semata.”
Tapi bisikan lain berkata, “Cinta ini indah bukan? Memang indah! Sayang sekali jika masa muda dilewatkan
dengan ibadah saja. Bila lagi kamu dapat melewati masa kampus dengan manis. Lagipula jika kamu berpacaran
kan secara sihat, secara Islami.. ‘Benar juga..”
Ali mengangguk-anggukkan kepalanya. “Manalah ada pacaran Islami, bahkan hatimu akan berzina dengan hubungan itu. Matamu juga berzina kerana memandangnya dengan syahwat. Hubungan yang halal hanyalah
pernikahan. Selain itu tidak!!! Bukankah salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mengubur zina?”, bisikan
yang pertama terdengar lagi.
Terdengar lagi bisikan yang lain, “Terlalu banyak aturan! Begini zina, begitu zina. Jika langsung menikah, bagaimana jika tidak sesuai? Bukankah harus ada beramah-mesra dulu agar saling mengenal! Apatah lagi kamu
baru kuliah tahun pertama. Nikah susah!”
Terdengar bantahan, “Benci kerana Allah, cinta kerana Allah. Jika pernikahanmu kerana Allah, Insya Allah, Dia akan redha padamu, dan akan tenteram keluargamu. Percayalah pada Tuhan penciptamu! Allah telah tentukan
jodohmu. Contohlah Rasululah SAW,hubungan beliau dengan wanita hanya pernikahan.”
Bisikan lain berkata. “Bla.., bla..,Ali,… masa muda.., masa muda…, jangan sampai disia-siakan, rugi!”
Ali berfikir keras. Kali ini imannya benar-benar dilanda godaan hebat. Syaitan telah berhasil memujuknya
dengan perangkapnya yang selalu berjaya sepanjang zaman, iaitu wanita.
Ali mengangkat gagang telefon. Jari-jarinya bergetar menekan nombor telepon Nisa. “Aah.., aku tidak berani.” Ali
menutup telefon.
Bisikan itu datang lagi, “Menyatakannya, lewat surat saja, supaya romantis…!” “Aha!Benar! “ Ali mengambil selembar kertas dan menuliskan isi hatinya. Ia bercadang akan memberikan kepada teman rapat Nisa. Jantung Ali berdebar ketika dari kejauhan ia melihat Nisa terlihat menerima surat dari temannya dan membaca surat itu.
***
Esoknya, Utsman mengantarkan surat balasan dari Nisa untuk Ali, sembari berkata, “Nisa hari ini sudah pakai
jilbab, dia jadi cantik lho. Sudah jadi akhawwat!”
Ali terkejut mendengarnya, namun rasa penasarannya membuatnya lebih memilih untuk membaca surat itu terlebih
dahulu daripada merenungi ucapan Ustman tadi. Ali membaca surat itu dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar
tak menyangka akan penolakan yang bersahaja namun cukup membuatnya merasa ditampar keras. Nisa menuliskan beberapa ayat dari Al Qur’an, isinya :
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara
kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
(QS. An Nuur : 30)
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”
(QS. Al Mu’minuun : 19).
Ali menghela nafas panjang…Astaghfirullah… Astaghfirullah… Hanya ucapan istighfar yang keluar dari bibirnya. Pandangan khianatku sungguh terlarang. Memandang wanita yang bukan muhrim. Ya Allah… kami dengar dan kami
taat. Astaghfirullah…
--------------
(Judul asli: "Kala Iman Tergoda.. Pernah diterbitkan di Bulletin Biru SMUNSA Bogor No. 01/I/23 Shafar 1421 H)
kembara cintaku Feb 7, '10 12:17 PM
for everyone
:: Bismillahirahmanirrahim ::
Subhanallah walhamdulillah Allahuakhbar!
dititik nokhtah itu ku sambung bicara penaku … menyambung perjalanan dari satu titik kehidupan ke satu kehidupan yang selamanya hingga bertemu titik akhir di negeri abadi.
kerana aku tidak mahu mati dipertengahan pengembaraan.. aku ingin terus bergerak bersama jiwa yang lebih segar… menyegarkan jiwa ku dan juga mana-mana jiwa-jiwa yang layu … satu misi pengembaraan sang faqir..
pencarian itu membawa jiwa ku kesini. .. aku sedang mencari rasa yang pernah hadir melayukan hati ini dalam belaianNya.. Ar-Raja’ .. Al-Khauf.. Ar-Redha.. ah! aku teramat ingin megihidupakannya.
disetiap hentian sapaan sang ujian memberi seribu satu ibrah dan aku si faqir yang lemah menggigihkan diri untuk segera bersiap untuk bergerak meneruskan pengembaraan cintaku.
dan disinilah.. kembara cintaku melabuhkan intipati kehidupan yang amat aku harapkan menjadi ibrah dan peringatan buat diriku yang sering alpa juga buat semua..
disinilah kuhimpunkan segala rasa, fikiran, cetusan ilham malah dapatan ilmu buat bekalan pengembaraanku..
” Ya Rabb moga tiap bait kata yang ku aturkan disini menambahkan cintaku padaMu..bernaung kasih dan rahmatMu dan moga merimbun pohon cintaku menggapai redhaMu ..amin! “
salam kembara.. salam cinta.. salam kembara cinta menju cintaNya cinta teragung!
barakallahufik wassalam…
- kembaracintaku -
biiznillah!
Dengan nama Allah Yang Maha Pekurah Lagi Maha Penyayang.
Tindakan “merendahkan diri” wujud dalam beberapa bentuk:
Pertama: Merendahkan Diri Dalam Perbuatan.
Seorang anak yang merendahkan diri kepada ibubapanya tidak akan mendahului mereka dalam perkara-perkara yang harus, seperti tidak akan berbicara dengan nada yang lebih tinggi daripada ibubapanya, tidak akan memotong ketika ibubapanya sedang bercakap, tidak akan bersembang di talifon bimbitnya di hadapan ibubapa, tidak akan membalas SMS ketika sedang berbual dengan ibubapa, tidak akan duduk sebelum ibubapanya duduk, tidak akan makan sebelum ibubapanya makan, tidak berjalan atau melangkah di hadapan ibubapanya dan sebagainya.
Berbeza dalam perkara-perkara yang dituntut oleh agama, merendahkan diri kepada ibubapa bererti mendahului mereka seperti terlebih dahulu mengucapkan salam, terlebih dahulu menghulurkan tangan untuk bersalaman, terlebih dahulu meminta maaf jika terlanjur, terlebih dahulu memaafkan ibubapa jika mereka tersilap, terlebih dahulu mengajak ayah ke masjid solat berjamaah, terlebih dahulu mengajak ibu membaca al-Qur’an bersama-sama, terlebih dahulu bangun menyediakan makanan untuk bersahur lalu kemudian mengejutkan ibubapa[1] dan sebagainya. Demikian juga dengan perkara-perkara yang dilarang oleh agama seperti terlebih dahulu menasihati ayah daripada merokok, terlebih dahulu menasihati ibu daripada memakai solekan apabila keluar rumah dan sebagainya.
Kedua: Merendahkan Diri Dalam Membuat Keputusan.
Seorang anak yang merendahkan diri kepada ibubapanya tidak akan membuat apa-apa keputusan dalam kehidupan mereka melainkan setelah mendapat izin dan keredhaan ibubapa. Ini termasuklah dalam hal-hal yang penting lagi besar seperti keputusan untuk melanjutkan pengajian, keputusan untuk belajar dalam jurusan tertentu, keputusan untuk mengambil kerjaya tertentu, keputusan untuk menetap di bandar lain sehinggalah kepada keputusan untuk memilih pasangan hidup.
Dalam Bahagian B sebelum ini telah dikemukakan hadis-hadis yang menerangkan bahawa sekalipun seorang anak ingin melakukan sesuatu perkara yang selari dengan tuntutan syari‘at, dia tetap perlu mendapat keizinan dan redha ibubapanya. Tidak bijak untuk mengejar satu tuntutan agama jika ia menyebabkan perlecehan terhadap tuntutan agama yang lebih besar, iaitu izin dan redha ibubapa.
Tidak dinafikan bahawa akan muncul perbezaan antara keputusan yang ingin dibuat oleh seorang anak dengan apa yang dikehendaki oleh ibubapa. Untuk mengelakkan perbezaan ini, hendaklah:
1.Bertanya kepada ibubapa sebelum membuat keputusan. Perbezaan sekali gus pergeseran lazimnya berlaku kerana kita (anak-anak) sering kali membuat keputusan tanpa bertanya pendapat ibubapa. Kita hanya mengkhabarkan apa yang telah diputuskan kepada ibubapa secara mengejut.
2.Berbincang dengan ibubapa seandainya keputusan yang ingin kita ambil berbeza dengan apa yang mereka kehendaki. Hargailah pandangan ibubapa kerana mereka lebih matang dan lebih mengenali cabaran-cabaran kehidupan berbanding kita.
Ambillah iktibar daripada kisah perjalanan Nabi Musa ‘alahissalam berikut ini:[2]
Dan setelah dia (Nabi Musa, meninggalkan Mesir dalam perjalanan) menuju ke negeri Madyan, berdoalah dia dengan berkata: “Mudah-mudahan Tuhanku menunjukkan jalan yang benar kepadaku.”
Dan ketika dia sampai di telaga air negeri Madyan, dia dapati di situ sekumpulan orang-orang lelaki sedang memberi minum (binatang ternak masing-masing) dan dia juga dapati di sebelah mereka dua perempuan yang sedang menahan kambing-kambingnya.
Dia bertanya: “Apa hal kamu berdua?”
Mereka menjawab: “Kami tidak dapat memberi minum (kambing-kambing kami) sehinggalah pengembala-pengembala itu membawa balik binatang ternak masing-masing dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya.”
Maka Musa pun memberi minum kepada binatang-binatang ternak mereka, kemudian dia pergi ke tempat teduh lalu berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku sangat berhajat kepada sebarang rezeki pemberian yang Engkau berikan.”
Kemudian salah seorang dari perempuan dua beradik itu datang mendapatkannya dengan berjalan dalam keadaan tersipu-sipu sambil berkata: “Sebenarnya bapaku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami.”
Maka ketika Musa datang mendapatkannya dan menceritakan kepadanya kisah-kisah kejadian yang berlaku (mengenai dirinya) berkatalah orang tua itu kepadanya: “Janganlah engkau bimbang, engkau telah selamat dari kaum yang zalim itu.”
Salah seorang di antara perempuan yang berdua itu berkata: “Wahai ayah, ambilah dia menjadi orang upahan (mengembala kambing kita), sesungguhnya sebaik-baik orang yang ayah ambil bekerja ialah orang yang kuat, lagi amanah.” [Maksud surah al-Qasas 28:22-26]
Perhatian kita ditumpukan kepada ayat yang terakhir. Perhatikan bahawa anak perempuan tersebut tidak membuat keputusan, melainkan terlebih dahulu memberi cadangan kepada ayahnya.
Beliau berkata: “…ambilah dia menjadi orang upahan…”.
Cadangan itu pula disertai sebab di sebaliknya: “…sesungguhnya sebaik-baik orang yang ayah ambil bekerja ialah orang yang kuat, lagi amanah.”
Semua ini dilakukan dengan penuh kesopanan dan rendah diri: “Wahai ayah…”
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengkhabarkan kisah di atas bukanlah untuk dijadikan bacaan sebelum tidur (bed time stories). Akan tetapi dikhabarkan-Nya agar kita dapat mencontohi dan mempraktikkannya ketika ingin membuat sesuatu keputusan.
Ketiga: Merendahkan Diri Dalam Menegur Kesalahan
Ibubapa adalah manusia biasa yang tidak terlepas daripada kesalahan. Kesalahan tersebut ada yang melibatkan urusan dunia dan ada juga yang melibatkan urusan agama. Apabila kita sebagai anak menyedari bahawa ibubapa melakukan sesuatu kesalahan, janganlah kita merasa ujub, kononnya lebih hebat, lebih baik, lebih betul dan lebih bijak daripada ibubapanya. Sebaliknya hendaklah kita merendahkan diri dengan bersyukur di atas kelebihan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala kurniakan kepada kita. Rasa syukur tersebut kemudiannya diterjemahkan kepada menegur dan membetulkan kesalahan ibubapa tersebut.
Sikap rendah diri adalah penting untuk menjamin teguran yang penuh sopan, hikmah dan bertahap-tahap kepada ibubapa. Tanpa sikap ini, teguran akan menjadi kasar, sinis dan mengharapkan perubahan serta merta. Semua ini hanya akan menjauhkan kita daripada ibubapa manakala kesalahan yang dilakukan mereka tetap berulang.
Ambillah iktibar melalui sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam menegur kesalahan para sahabat pada zaman baginda. Sunnah ini dikhabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ayat yang telah kita rujuk sebelum ini, yang bermaksud:
Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai Muhammad), engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu.
Oleh itu maafkanlah mereka dan pohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah berazam (sesudah bermesyuarat)
maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang bertawakkal
kepada-Nya. [Ali Imran 3:159]
Perhatikan bahawa sunnah Rasulullah dalam menegur para sahabatnya adalah secara “…lemah-lembut kepada mereka…” Seandainya baginda bersikap kasar lagi keras, nescaya “…mereka lari dari kelilingmu.” Di atas sikap lemah lembut kepada mereka, Rasulullah memulakan dengan memaafkan mereka, mendoakan keampunan bagi mereka, lalu diikuti dengan “…bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan itu.” Setelah bermesyuarat, atau dalam erti kata lain berbincang, baginda “…bertawakkallah kepada Allah.”
Demikianlah juga sikap kita sebagai seorang anak dalam menegur kesalahan ibubapa. Hendaklah kita bersikap lemah lembut kepada mereka kerana sikap kasar dan keras hanya akan menjauhkan mereka daripada kita. Mulakan dengan memaafkan mereka, mendoakan keampunan kepada mereka, diikuti dengan perbincangan bersama mereka secara sopan dan hikmah, dilengkapi dengan penjelasan yang ilmiah dan bijak. Kemudian bertawakkallah kepada Allah agar mereka berubah daripada kesalahan tersebut.
Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim ‘alahissalam menegur ayahnya yang bukan sahaja musyrik tetapi berperanan sebagai pembuat berhala. Sekalipun ayahnya membuat kesalahan yang amat besar, beliau tetap menegurnya secara sopan dan hikmah, dilengkapi dengan penjelasan yang ilmiah dan bijak. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengkhabarkan kisah ini dalam al-Qur’an:
Dan bacakanlah di dalam Kitab (Al-Quran) ini perihal Nabi Ibrahim; sesungguhnya adalah dia
seorang yang amat benar, lagi menjadi Nabi. Ketika dia berkata kepada bapanya:
“Wahai ayahku, mengapa ayah menyembah benda yang tidak mendengar dan tidak melihat
serta tidak dapat menolongmu sedikitpun?
Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku dari ilmu pengetahuan yang tidak pernah datang kepadamu, oleh itu ikutlah daku, aku akan memimpinmu ke jalan yang betul.
Wahai ayahku, janganlah ayah menyembah Syaitan,
sesungguhnya Syaitan itu menderhaka kepada Allah yang melimpah-limpah Rahmat-Nya.
Wahai ayahku, sesungguhnya aku bimbang bahawa ayah akan kena azab dari (Allah) Ar-Rahman
disebabkan ayah menyembah yang lainnya; maka dengan sebab itu akan menjadilah ayah
rakan bagi syaitan di dalam neraka.” [Maksud surah Maryam 19:41-45]
Setelah ditegur, janganlah mengharapkan perubahan serta merta kerana manusia lazimnya sukar untuk berubah secara serta merta. Berilah mereka ruang untuk memikirkan apa yang telah dibincangkan. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
Dan jika seseorang dari kaum musyrik meminta perlindungan kepadamu (untuk memahami Islam),
maka berilah perlindungan kepadanya sehingga dia sempat mendengar ayat-ayat Allah (tentang hakikat Islam itu), kemudian hantarlah dia ke mana-mana tempat yang dia beroleh aman.
Perintah yang tersebut ialah kerana mereka itu kaum yang tidak mengetahui (hakikat Islam).
[al-Taubah 9:06]
Apabila orang-orang musyrik meminta perlindungan di kalangan umat Islam, Allah tidak memerintahkan kita untuk memastikan mereka terus memeluk Islam. Sekalipun mereka melakukan kesalahan yang amat besar terhadap Allah, Allah hanya memerintahkan kita untuk menjelaskan kepada mereka tentang Islam dan kemudian membiarkan mereka di tempat yang aman, untuk memikirkan tentangnya.
Maka sudah tentu ibubapa kita yang lebih kecil kesalahannya berbanding ayah Nabi Ibrahim dan kaum musyrik, berhak menerima teguran yang lebih sopan, berhikmah dan bertahap-tahap.[3] Perdengarkan kepada mereka penjelasan yang ilmiah dan bijak. Jika kesalahan mereka melibatkan urusan agama, perdengarkan kepada mereka ayat-ayat al-Qur’an, hadis-hadis Rasulullah dan penjelasan para ilmuan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Oleh itu berilah peringatan (kepada umat manusia dengan ajaran Al-Quran),
kalau-kalau peringatan itu berguna. [al-A’la 87:09]
Kemudian beri mereka ruang untuk mereka berfikir dan mengambil iktibar daripadanya. Teguran boleh diulangi pada masa-masa kemudian, namun hendaklah dikawal kadarnya agar tidak terlalu kerap sehingga membosankan.
Peranan anak tidak sahaja terhad kepada menegur kesalahan ibubapa, tetapi juga menasihati ibubapa dalam perselisihan yang adakalanya wujud di antara mereka. Sedangkan lidah juga tergigit, apatah lagi hubungan suami-isteri. Sebagai manusia yang biasa, hubungan antara ibu dan ayah adakalanya memiliki cabaran yang tersendiri seperti perselisihan dan pertengkaran. Maka apabila berhadapan dengan suasana seperti ini, janganlah menyisihkan diri atau menyebelahi satu pihak. Sebaliknya berusahalah sekadar mampu untuk menasihati kedua-duanya dan mententeramkan mereka berdua. Nescaya usaha murni ini akan diredhai Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dihargai oleh kedua-dua ibu dan ayah.
Keempat: Merendahkan Diri Dengan Mendoakan Ibubapa
Sikap merendahkan diri kepada ibubapa juga diterjemahkan dalam perbuatan mendoakan mereka. Di samping doa-doa daripada al-Qur’an yang telah dikemukakan sebelum ini, kita (anak-anak) dianjurkan berdoa berdasarkan ayat berikut:
“Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil.” [al-Isra’ 17:24]
Membiasakan diri untuk mendoakan ibubapa akan melatih kita untuk bersikap rendah diri kepada ibubapa sehingga akhirnya memudahkan kita mempraktikkan sikap tidak mendahului mereka, bertanya dan berbincang dengan mereka dalam mengambil keputusan dan bersikap sopan lagi berhikmah dalam menegur kesalahan mereka.
[1] Waktu bersahur adalah beberapa minit sebelum azan Subuh dan bukan pada malam sebelumnya. Lebih lanjut tentang keutamaan bersahur dan beberapa salah faham tentangnya, rujuk buku saya berkenaan amalan-amalan di bulan Rejab, Sya’ban dan Ramadhan yang berjudul Menelan Air Liur Tidak Membatalkan Puasa terbitan Jahabersa, Johor Bahru, 2005.
[2] Perjalanan ini berlaku sebelum beliau diangkat menjadi Rasul.
[3] Seandainya di kalangan pembaca ada yang memiliki ibubapa yang masih belum memeluk Islam, berilah mereka teguran yang sama sepertimana yang saya sebutkan di atas. Pengecualian adalah anda tidak boleh mendoakan keampunan Allah kepada mereka berdasarkan firman-Nya: Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah ahli neraka. [al-Taubah 9:113]
Akan tetapi berdoalah agar Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi hidayah kepada mereka dan memberi kekuatan serta ilmu kepada anda untuk berdakwah kepada mereka.
tabahkan hatimu.. dirimu sudah lakukan yang terbaik...
AKU BIMBANG
Aku bimbang. Sangat bimbang ..
Bagaimanakah kalau esok..aku mati mendadak?
Sembahyangku masih banyak..yang belum terqada'
Ingin membayar puasa yang tertinggal..masih belum aku bertindak
Hutangku masih berlambak-lambak.
Finance keretaku belum lagi lunas tertunai
Hutang bank rumahku masih belum selesai
Kewajipanku masih banyak yang terbengkalai.
Aku bimbang..sangat bimbang..
Apakah aku akan diberi VIP Welcome di alam barzakh
oleh Munkar dan Nankir dengan senyuman bermanis wajah
Atau apakah aku akan dibelasah
oleh pembengis-pembengis di alam barzakh ?
Apakah aku dapat menahan sakit
Bila ular kubur datang menggigit
Kerana sembahyangku yang amat sedikit
Aku bimbang..sangat bimbang..
Isya’ masuk..ayah ke surau menyembah Allah SWT
Aku depan tv menonton AKADEMI FANTASIA,
Ayah bertasbih, bertahmid..berzikir memuji Tuhan
Aku terjerit²..MENYOKONG PESERTA REALITI TV YANG SIA-SIA.
Ayah menggunakan masa mencari redhaan Tuhan
Tapi aku masih berpoya-poya seperti NYAWAKU PANJANG LAGI.
Kalaulah besok subuh Izrail datang bertandang
Bagaimanakah nasibku..setelah dunia aku tinggalkan?
Aku bimbang..amat bimbang
Imanku masih terumbang-ambing
Ketika aku di dalam kubur..
adakah orang yang akan mendo'akan?
Siapa akan menyedekahkan bacaan Yasin dan surah-surah Al-Qur'an
Buat meredakan siksa kubur yang datang tanpa kasihan
Nasibku di bawah tanah..adakah siapa yang akan mengenangkan?
Hilang aku dari pandangan..hilanglah aku dalam kenangan.
Jadi..kenapa aku kurang berusaha menyiapkan bekalan?
Supaya di kubur nanti aku diberi VIP Welcome.
Aku bimbang..sangat bimbang..
Amal ibadahku sangat berkurang !
WAHAI MANUSIA ... taubatlah engkau dari sekarang
Tinggalkanlah padang bola..
TINGGALKAN HIBURAN MELAMPAU dan pergi ke masjid seperti orang lain.
Qada'lah sembahyangmu yang tertinggal, bayarlah puasamu
Berhentilah menjadi sahabat syaitan
Agar hidupmu mendapat keredhaan
Sebelum engkau kembali ke ALAM BARZAKH..
“Bersabarlah engkau hari ini, mungkin engkau akan mati pada malam nanti dan bersabarlah malam ini, mungkin engkau akan mati pada esok pagi kerana mati tidak datang pada masa yang tertentu dan dalam keadaan yang tertentu dan ataupun pada umur yang tertentu. Kematian pasti akan datang. Oleh itu, bersiap-siap untuk menghadapinya adalah lebih utama daripada bersiap-siap untuk mendapatkan kebahagiaan dunia. Bukankah engkau memang sudah mengetahui bahawa engkau tidak akan lama hidup di dunia ini? Barangkali umurmu hanya tinggal satu hari atau hanya sekali bernafas sahaja lagi
from~aminkhalidy
shukran saudara~
:: Bismillahirahmanirrahim ::
luah hati mu menyentuh benakku
mungkin kerna hati ini mudah terusik
luah jerih mu tergambar pada redup sayu matamu
ah..pantas sungguh manik jernih ini membasahi pipi
terusik rayu dan rentan hati mu menangis tangis
kecelerauan fikiran mu tergambar dari leteran kata-katamu
terkadang bisa menusuk kalbu..
andai akal dipandu nafsu berhadapan situasi ini
pasti derhaka tempatnya..
diam...tenang...
istghfar..duhai hati..
tenang duhai diri..
Alhadmulillah berkat kasih Ilahi ..
ku nilai.. ku fikir..ku zikir...
ada hikmah perlu kurungkai dari situasi itu...
Ya Allah pimpin daku hadapi apa yang kuhadapi..
Tersayu hati mengenang detik itu satu tika dulu...
situasi yang sama.. cuma tindakbalas yang berbeza..
selari kedewasaan yang banyak mengajar erti kasih sayang
yang bukan mengharapkan balasan...walau ada dahaga kasih disitu..
tetapi mendambakan pemberian ikhlas sebuah kasih ..seraut sayang..
menjaga sekeping hati suci
yang terlalu berharga bagai permata
perlu hati-hati dalam menyantuni..
andai tersilap ..berderai ...
Ya Rabb tenangkan hati permaisuri hatiku..
Ya Rabb campakkan kedamaian dihatinya...
biar sahaja hatiku dicarik..
namun bukan hatinya...
air mata yang mengalir kupohon
bukan air mata duka...
ku pohon kelak air mata itu
bisa menyatukan hati-hati kami
bagi meraih redhaMu ...
Ya Rabb tabahkanlah hati kerdil ini..
amiin..
~ANNur~
Subscribe to:
Posts (Atom)